Ini masih hari minggu dan kita secara bersama-sama telah merencanakan pergi ke Utrect. Dengan segala keyakinan mulai dari merancang moda transportasi yang digunakan, rute beserta pengumpulan beaya bersama, maka jadilah kita berangkat ke salah satu kota ternama di Negeri Belanda. Perjalanan dengan kereta api berawal dari stasiun kecil Oisterwijk, yang kita jangkau dengan naik taksi dari basecamp, menuju ke stasiun Eindhoven dan berganti kereta untuk melanjutkan perjalanan ke stasiun Utrect........
Mengingat start awal dari basecamp lumayan pagi (7.30), maka kitapun sampai di tempat tujuan juga masih kelewat pagi (09.30), saat seisi kota masih tertidur alias belum ada aktivitas kehidupan, toko-toko buka baru jam 11.00. Kita menjadi manusia pertama yang mengisi aktivitas kota dengan menyusuri sepanjang jalan dalam kondisi kedinginan tanpa menemukan satu tempatpun untuk bisa dijadikan mesin penghangat........
Sambil berjalan mengukur panjangnya jalanan kota, kitapu berkali-kali berusaha mematutkan diri sebagai seorang foto model. Begitu banyak sudut-sudut kota, berupa bangunan kuno dan bersejarah maupun deretan pepohonan sub tropis yang lagi berubah warna daunnya, yang demikian indah untuk dilihat dan terlebih lagi begitu indah untuk dijadikan background foto-foto narsis kita.......Begitulah yang membedakan kita dengan pengunjung kota lainnya yang terlihat lebih serius mengamati dan mempelajari makna dari masing-masing bangunan ketimbang sekedar menjadikannya sebagai latar belakang foto.......whatever, sebagai orang yang awam sejarah, cukuplah bagi kita untuk mengagumi keberadaan dan keindahannya melalui lembar demi lembar gambar yang berhasil diabadikan.
Begitulah saat jam menunjukkan angka 11, denyut aktivitas kota mulai terasa, satu demi satu toko mulai buka, pedagang di flea market mulai menata barangnya, dan koridor jalanan kota mulai dipadati dengan para pejalan kaki maupun pembelanja.............hari minggu saatnya untuk membelanjakan isi kantong dengan segala keperluan musim dingin, itu pula yang dilakukan oleh sebagian peserta pelatihan, terkecuali diriku yang tak berminat karena masih lebih familiar dan memilih berbelanja di pertokoan yang ada di pusat kota Den Bosch......
Selanjutnya lagi-lagi kita melabuhkan diri ke Mc. Donald, aku pesan menu yang sama.....Memang terkesan tidak kreatif, but I really don’t care about that.......yang penting di tempat ini aku bisa kembali menyapa kolega dan bersosialisasi dengan dunia luar melalui fasilitas wi-fi gratis yang disediakan oleh resto cepat saji tersebut...........
Jam 02.30 kita sudah kumpul lagi di stasiun dan kembali melewati perjalanan menuju Eindhoven (dengan sedikit ‘accidental moment’), pindah kereta menuju ke stasiun Oisterwijk dan kembali bertaksi ria menuju bungalow 28, our home sweet home at the moment......
Senin, 29 November 2010
Benchmarking to NL (6. 1st Week End (City Sightseeing, 6-11-10)
Ini menjadi akhir pekan atau hari sabtu pertama yang kita lewati dengan acara jalan-jalan plus lihat-lihat keramaian pusat kota Den Bosch, mengulang aktivitas yang kita lakukan kamis malam kemarin saat ditunjukkan oleh Kim, sang asisten Koordinator Pelatihan...........Hari diawali dengan bangun tidur yang sedikit lebih siangan dan kita baru meninggalkan kawasan De Parel jam 10.30 an dan di drop di pusat kota, selanjutnya bersama2 menyusuri koridor kota dengan panduan langsung dari Mr. Toine yang terpaksa mengorbankan hari liburnya untuk mendampingi kita.......how kind he was, and we really have owed to him.......
Oleh Mr. Toine kita dikenalkan dengan jalanan pusat kota, sekitar city hall, kemudian mendekat dan melihat lebih dekat sebuah Gereja tua (Saint Jan) yang dibangun pada abad 13 hingga 16 masehi. Cukup mengagumkan bagiku, meski tidak terlalu istimewa mengingat telah banyak bangunan sejenis yang pernah aku lihat dari dekat. Selanjutnya kita dilepas untuk melakukan pilihan aktivitas masing-masing hingga menunggu jemputan bis saat jam 15.00.........
Langsung saja kita bertebaran menuju sasaran dan minat masing-masing, aku beserta ibu-ibu satu bungalow menelusur dari toko satu ke toko lainnya, utamanya yang menjual produk fashion maupun souvenir. Berulangkali kita mencoba mengkakulasi harga dan isi kantong setiap menemukan barang yang diminati, dan akhirnya aku dapat juga sebuah coat yang relatif murah dibanding barang sejenis yg sdh kita lihat, hanya saja kualitas barangnya tidak sepenuhnya sempurna alias ada cacat..........
Acara window shopping pun berlabuh di restoran cepat saji (Mc Donnald), aku pesan menu favorit dan andalan dimanapun berada yakni : french fries, chicken nugget and lemon tea.....benar2 gak ada niat untuk merubah pesanan menu.......Jam 15.00 kita sdh kembali ke bis penjemput dan kembali ke basecamp, mengantar teman2 ke main building untuk me-loundry pakaian sementara aku bisa melanjutkan nge-net dengan membayar tarif wi-fi sebesar 6 euro per jam.......terasa sekali yang namanya menggunakan fasilitas wi-fi demikian mahal disini (bandingkan dengan salah satu hotel di Lombok yang hanya memasang tarif wi-fi Rp. 20.000 per jam...........
Oleh Mr. Toine kita dikenalkan dengan jalanan pusat kota, sekitar city hall, kemudian mendekat dan melihat lebih dekat sebuah Gereja tua (Saint Jan) yang dibangun pada abad 13 hingga 16 masehi. Cukup mengagumkan bagiku, meski tidak terlalu istimewa mengingat telah banyak bangunan sejenis yang pernah aku lihat dari dekat. Selanjutnya kita dilepas untuk melakukan pilihan aktivitas masing-masing hingga menunggu jemputan bis saat jam 15.00.........
Langsung saja kita bertebaran menuju sasaran dan minat masing-masing, aku beserta ibu-ibu satu bungalow menelusur dari toko satu ke toko lainnya, utamanya yang menjual produk fashion maupun souvenir. Berulangkali kita mencoba mengkakulasi harga dan isi kantong setiap menemukan barang yang diminati, dan akhirnya aku dapat juga sebuah coat yang relatif murah dibanding barang sejenis yg sdh kita lihat, hanya saja kualitas barangnya tidak sepenuhnya sempurna alias ada cacat..........
Acara window shopping pun berlabuh di restoran cepat saji (Mc Donnald), aku pesan menu favorit dan andalan dimanapun berada yakni : french fries, chicken nugget and lemon tea.....benar2 gak ada niat untuk merubah pesanan menu.......Jam 15.00 kita sdh kembali ke bis penjemput dan kembali ke basecamp, mengantar teman2 ke main building untuk me-loundry pakaian sementara aku bisa melanjutkan nge-net dengan membayar tarif wi-fi sebesar 6 euro per jam.......terasa sekali yang namanya menggunakan fasilitas wi-fi demikian mahal disini (bandingkan dengan salah satu hotel di Lombok yang hanya memasang tarif wi-fi Rp. 20.000 per jam...........
Benchmarking to NL (5. Visit to Alsmeer Auction, 5-11-2010)
Ini manjadi salah satu item kegiatan yang demikian aku impikan......Mengenal pertamakali nama Aalsmeer sekitar 20 tahun yang lalu, ditambah dengan mengikuti presentasi tentang sistem pemasaran florikultura melalui lelang oleh pembicara tamu dari Belanda saat kuliah di Bogor, maka aku jadi demikian merasa ‘kenal’ dengan Aalsmeer Auction tersebut, meski hanya melalui aneka bacaan dan presentasi...............
Dan hari ini, teramat membahagiakan karena aku beserta teman lain berkesempatan melihat pusat perdagangan internasional seluas 50 lapangan sepakbola ini. Berangkat dari basecamp begitu dini (jam 5.00) dan masih teramat gelap, ditemani oleh seorang wakil dari HAS (Arjan) kitapun melewati perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, kearah utara menuju kawasan Alsmeer yang relatif dekat dengan Kota Amsterdam.
Sesampai area lelang tak henti2nya kita dibuat kagum dan geleng kepala oleh irama kerja dari semua unit maupun bagian, yang demikian efisien, sistimatis dan serba otomatis. Semua aktivitas kerja dari para awak lelang begitu well organized, sesuatu yang lagi2 perlu kita ambil pelajaran......Dengan panduan seorang guide internal, kitapun diajak tour berkeliling dan menyaksikan langsung semua sudut mulai dari hall kedatangan, ruangan lelang (clock), hall distribusi hingga fasilitas lain yang tersedia seperti ruang controlling mutu varietas baru dan showroom untuk mendisplay produk yang bisa langsung dibeli secara retail.
Satu hal yang perlu dicatat dari keberadaan lembaga lelang yang telah berdiri hampir seratus tahun ini adalah bagaimana semua sistem, regulasi dan policy dari pemerintah dapat sejalan secara sinergis dan berkelanjutan dengan tuntutan profesionalitas lembaga swasta (dalam hal ini Holland Flower sebagai pengelola 6 pusat lelang yang ada di Negeri Belanda)......bicara tentang kemampuan berkoordinasi dan menjaga komitmen memang terasa masih demikian jauh dari kenyataan yang kita hadapi sehari-hari di negeri sendiri........
Akhirnya keberadaan Aalsmeer Auction hanya menjadi sebuah potret yang demikian indah dibenak masing-masing kita, rasanya menunggu waktu yang cukup panjang untuk mulai memprioritaskan rencana dalam mengadopsi sistem dan kinerja yang ada, apalagi mewujudkannya dalam dunia nyata..........Pastinya kita perlu lebih bersabar sambil mempersiapkan diri segala sesuatunya sebelum bergerak untuk mengadopsi kemajuan yang secara kasat mata ditunjukkan di negeri ini........
Everything is always take a time, and million journey always start from the first step.....so let our first step is initiate from here...............
Dan hari ini, teramat membahagiakan karena aku beserta teman lain berkesempatan melihat pusat perdagangan internasional seluas 50 lapangan sepakbola ini. Berangkat dari basecamp begitu dini (jam 5.00) dan masih teramat gelap, ditemani oleh seorang wakil dari HAS (Arjan) kitapun melewati perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, kearah utara menuju kawasan Alsmeer yang relatif dekat dengan Kota Amsterdam.
Sesampai area lelang tak henti2nya kita dibuat kagum dan geleng kepala oleh irama kerja dari semua unit maupun bagian, yang demikian efisien, sistimatis dan serba otomatis. Semua aktivitas kerja dari para awak lelang begitu well organized, sesuatu yang lagi2 perlu kita ambil pelajaran......Dengan panduan seorang guide internal, kitapun diajak tour berkeliling dan menyaksikan langsung semua sudut mulai dari hall kedatangan, ruangan lelang (clock), hall distribusi hingga fasilitas lain yang tersedia seperti ruang controlling mutu varietas baru dan showroom untuk mendisplay produk yang bisa langsung dibeli secara retail.
Satu hal yang perlu dicatat dari keberadaan lembaga lelang yang telah berdiri hampir seratus tahun ini adalah bagaimana semua sistem, regulasi dan policy dari pemerintah dapat sejalan secara sinergis dan berkelanjutan dengan tuntutan profesionalitas lembaga swasta (dalam hal ini Holland Flower sebagai pengelola 6 pusat lelang yang ada di Negeri Belanda)......bicara tentang kemampuan berkoordinasi dan menjaga komitmen memang terasa masih demikian jauh dari kenyataan yang kita hadapi sehari-hari di negeri sendiri........
Akhirnya keberadaan Aalsmeer Auction hanya menjadi sebuah potret yang demikian indah dibenak masing-masing kita, rasanya menunggu waktu yang cukup panjang untuk mulai memprioritaskan rencana dalam mengadopsi sistem dan kinerja yang ada, apalagi mewujudkannya dalam dunia nyata..........Pastinya kita perlu lebih bersabar sambil mempersiapkan diri segala sesuatunya sebelum bergerak untuk mengadopsi kemajuan yang secara kasat mata ditunjukkan di negeri ini........
Everything is always take a time, and million journey always start from the first step.....so let our first step is initiate from here...............
Sabtu, 06 November 2010
Benchmarking to Netherland (4. Lecture...............)
Lectures (day 1 - Introduction), 2-11-10
Bangun lebih awal, sedikit melibatkan diri dalam kesibukan mempersiapkan makan pagi..... Selanjutnya bersiap menuju kampus untuk perkuliahan hari pertama dengan segala suka cita dan kegembiraan ala siswa baru.......Rupanya setiap kita memiliki keinginan nan kuat dalam memaksa diri bersahabat dengan lingkungan ilmiah, seberapapun usia kita.......nothing to do with our age, we’re in the same wave about catching the new knowledge or experience..........
Perkuliahan diawali dengan tema yang sedikit berat dan bernuansa global perspektif disampaikan langsung sang koordinator (Mr. Toine, baca Toang) yang layaknya telah menjadi bapak alias jujugan bagi kita semua untuk menyampaikan uneg-uneg..........tema introduksi tentang HAS den Bosch pun melengkapi separo aktivitas hari ini. Dan seusai istirahat ishoma (makan siang ala Londo plus ritual ibadah yang serba darurat.....), kitapun dibawa jalan kaki dalam suasana basah menuju ruang perkualiahan yang lain sekitar 500 meter dari gedung pertama. Disini separo siang kita mendapatkan pencerahan dan penguatan motivasi dari seorang lecturer ahli komunikasi (Ms. Suzan) yang menyampaikan tentang teori Calvinitas dan Assertiveness. Dengan amat menariknya dia menyampaikan petuah/nasehatnya kepada semua peserta agar selalu berani untuk bertanya dan meminta penjelasan kepada narasumber yang dipastikannya sangat profesional dan benar-benar menguasai materi yang disampaikan. Berulang kali dia menegaskan bahwa kita harus berani dan tidak perlu merasa malu atau rendah diri dalam memberi nilai lebih dari setiap materi perkuliahan yang kita dapatkan, Letting the fear to make a mistake is a stupid thing......use your word because sign language is really not enough.......speak up your mind !!!!
Begitulah, session yang berdurasi 3 jam tiba-tiba menjadi sebuah arena pengembangan kepribadian ala Ms. Suzan. Dia tampil menarik dengan gaya ala Rachel Ray (acara masak memasak di salah satu Acara TV berita di Indonesia), dengan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang selalu menghidupkan suasana segar, semarak tak sedikitpun memberikan kesempatan bagi kita untuk mengantuk atau sekedar mengalihkan perhatian. She is really really a such great activator, encouraging people to speak and ask............what a wonderful lecture !!!!!
Berikutnya acara bergulir ke kunjungan sesaat pada sebuah supermarket yang ada di sekitar kampus, dengan persediaan kebutuhan sehari-hari yang lengkap, rasanya akan segera menjadi tempat jujugan bagi kita semua di beberapa hari kedepan..........Dan aku tahu pasti apa yang mesti aku dapatkan di supermarket ini : SAYURAN, nothing more than that kind of healthy foods........
Lecture (Day 2 - Going into global perspective), 3-11-10
Diawali dengan penyampaian profil singkat masing-masing peserta beserta harapan yang ingin diperoleh dari program pelatihan. Selanjutnya materi lecturer hari ini sudah benar-benar memasuki inti dari pelatihan, disampaikan oleh dua orang pengajar yang benar-benar profesional di bidangnya. Dengan amat antusias dan serius keduanya (Mr. Frank dan Mr. Marcel) menyampaikan presentasi bertaburan data-data terkini, begitu fasih memotret kondisi perdagangan internasional, terlebih lagi kondisi di Indonesia. Dengan pengalamannya sebagai konsultan dan selama tiga tahun tinggal di Indonesia, Mr. Marcel dapat menyajikan berbagai hal yang justru luput dari perhatian kita sebagai orang negeri dan berada di jajaran pemerintahan, penggambaran keadaan yang benar-benar terjadi dan memerlukan pembenahan, terlebih lagi sejatinya semua kita telah menyadarinya, namun tak mampu merubahnya.........that’s really a fact and true story, even the bitter one.....
Selama dua session materi masing-masing berdurasi 3 jam, kita semua terlebih diriku benar-benar dibuat kagum bin takjub oleh profesionalitas dan kepiawaian mereka dalam menyampaikan materi dengan tayangan presentasi yang demikian lengkap dan komprehensif...............Ditambah dengan teknik pengajaran yang demikian mengedepankan keterlibatan semua peserta alias bersifat sangat interaktif, sesuatu yang sedikit berbeda dengan kebanyakan tatacara pengajaran yang kita temukan di tanah air. Lagi-lagi kita mesti mengacungkan dua jempol untuk kinerja proses edukasi yang demikian mengagumkan dari negeri kincir angin ini.........
Lecture (Day 3 – up close and personal, a whole day with Mr. Marcel), 4-11-10
Masih dengan tema yang down to earth dengan kondisi riil di Indonesia, sang lecturer kembali beraksi dengan penuh semangat, memaparkan semua bentuk hambatan dan kendala yang dipotetnya dari kondisi industri hortikultura di Indonesia, sekaligus membandingkannya dengan negara-negara lain yang lebih cepat mengukir kemajuan seperti Thailand dan Vietnam. Dan lagi-lagi kita dibuat terkesima dengan kemampuannya dalam menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran semua peserta yang seolah2 sedang tertantang untuk bisa mengungkapkan pendapat dan pikirannya seperti pesan dari Ms. Suzan di hari pertama lecture......
Sepanjang perkuliahan aku dibuat salut dan terkagum-kagum dengan stamina dari sang pengajar yang tidak sedikitpun mengalami penurunan dari pagi hingga sore hari. Terlihat dengan amat jelas, tiadanya perubahan dari nada suara maupun irama emosi dari awal hingga akhir jam pelajaran......that’s really amazing, salute and deep appreciation for him..............
Secara khusus aku juga dibuat kagum dan perlu mengacungkan jempol bagi semangat teman-teman sesama peserta yang demikian antusias dan terus mencoba ‘terlibat’ lebih dekat dengan tema/materi yang disampaikan oleh sang pengajar. Nampak sekali pembekalan dan pesan hari pertama dari sang motivator (Ms. Suzan) demikian merasuk dan mengilhami kita semua untuk tidak lagi malu-malu..........it’s a kind of an achievement we should appreciate.......
Seusai pelajaran, kitapun berkesempatan menikmati suasana malam di tengah kota Den Bosch, berjalan di koridor pertokoan sekitar city hall, berfoto ria dengan segala kenarsisannya, dan diakhiri dengan makan fast food di Mc Donnald berempat (teman se-bungalow). Di restoran cepat saji tersebut, kita berkesempatan menikmati makanan dengan cita rasa yang amat familiar dengan lidahku, puas rasanya, ditambah dengan kepuasan yg lain karena bisa ber internet ria melalui fasilitas wi-fi gratis maupun berlama2 melakukan window shopping di toko fashion yg terhubung langsung dengan Mc Donnald.......Cuma saja ketika saatnya kita mesti kembali ke meeting point alias tempat parkir bis jemputan, kita sempat dibuat panik, karena tidak bisa menemukan jalan kembali dengan cepat. Akhirnya setelah paksakan diri bertanya pada seseorang, kitapun dapat yakin menemukan tempat jemputan tersebut, namun harus berkorban berjalan amat cepat plus nafas yang terengah-engah..........bis dapat kita temukan di detik2 terakhir batas waktu yang dijanjikan, Thanks God!!!
Bangun lebih awal, sedikit melibatkan diri dalam kesibukan mempersiapkan makan pagi..... Selanjutnya bersiap menuju kampus untuk perkuliahan hari pertama dengan segala suka cita dan kegembiraan ala siswa baru.......Rupanya setiap kita memiliki keinginan nan kuat dalam memaksa diri bersahabat dengan lingkungan ilmiah, seberapapun usia kita.......nothing to do with our age, we’re in the same wave about catching the new knowledge or experience..........
Perkuliahan diawali dengan tema yang sedikit berat dan bernuansa global perspektif disampaikan langsung sang koordinator (Mr. Toine, baca Toang) yang layaknya telah menjadi bapak alias jujugan bagi kita semua untuk menyampaikan uneg-uneg..........tema introduksi tentang HAS den Bosch pun melengkapi separo aktivitas hari ini. Dan seusai istirahat ishoma (makan siang ala Londo plus ritual ibadah yang serba darurat.....), kitapun dibawa jalan kaki dalam suasana basah menuju ruang perkualiahan yang lain sekitar 500 meter dari gedung pertama. Disini separo siang kita mendapatkan pencerahan dan penguatan motivasi dari seorang lecturer ahli komunikasi (Ms. Suzan) yang menyampaikan tentang teori Calvinitas dan Assertiveness. Dengan amat menariknya dia menyampaikan petuah/nasehatnya kepada semua peserta agar selalu berani untuk bertanya dan meminta penjelasan kepada narasumber yang dipastikannya sangat profesional dan benar-benar menguasai materi yang disampaikan. Berulang kali dia menegaskan bahwa kita harus berani dan tidak perlu merasa malu atau rendah diri dalam memberi nilai lebih dari setiap materi perkuliahan yang kita dapatkan, Letting the fear to make a mistake is a stupid thing......use your word because sign language is really not enough.......speak up your mind !!!!
Begitulah, session yang berdurasi 3 jam tiba-tiba menjadi sebuah arena pengembangan kepribadian ala Ms. Suzan. Dia tampil menarik dengan gaya ala Rachel Ray (acara masak memasak di salah satu Acara TV berita di Indonesia), dengan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang selalu menghidupkan suasana segar, semarak tak sedikitpun memberikan kesempatan bagi kita untuk mengantuk atau sekedar mengalihkan perhatian. She is really really a such great activator, encouraging people to speak and ask............what a wonderful lecture !!!!!
Berikutnya acara bergulir ke kunjungan sesaat pada sebuah supermarket yang ada di sekitar kampus, dengan persediaan kebutuhan sehari-hari yang lengkap, rasanya akan segera menjadi tempat jujugan bagi kita semua di beberapa hari kedepan..........Dan aku tahu pasti apa yang mesti aku dapatkan di supermarket ini : SAYURAN, nothing more than that kind of healthy foods........
Lecture (Day 2 - Going into global perspective), 3-11-10
Diawali dengan penyampaian profil singkat masing-masing peserta beserta harapan yang ingin diperoleh dari program pelatihan. Selanjutnya materi lecturer hari ini sudah benar-benar memasuki inti dari pelatihan, disampaikan oleh dua orang pengajar yang benar-benar profesional di bidangnya. Dengan amat antusias dan serius keduanya (Mr. Frank dan Mr. Marcel) menyampaikan presentasi bertaburan data-data terkini, begitu fasih memotret kondisi perdagangan internasional, terlebih lagi kondisi di Indonesia. Dengan pengalamannya sebagai konsultan dan selama tiga tahun tinggal di Indonesia, Mr. Marcel dapat menyajikan berbagai hal yang justru luput dari perhatian kita sebagai orang negeri dan berada di jajaran pemerintahan, penggambaran keadaan yang benar-benar terjadi dan memerlukan pembenahan, terlebih lagi sejatinya semua kita telah menyadarinya, namun tak mampu merubahnya.........that’s really a fact and true story, even the bitter one.....
Selama dua session materi masing-masing berdurasi 3 jam, kita semua terlebih diriku benar-benar dibuat kagum bin takjub oleh profesionalitas dan kepiawaian mereka dalam menyampaikan materi dengan tayangan presentasi yang demikian lengkap dan komprehensif...............Ditambah dengan teknik pengajaran yang demikian mengedepankan keterlibatan semua peserta alias bersifat sangat interaktif, sesuatu yang sedikit berbeda dengan kebanyakan tatacara pengajaran yang kita temukan di tanah air. Lagi-lagi kita mesti mengacungkan dua jempol untuk kinerja proses edukasi yang demikian mengagumkan dari negeri kincir angin ini.........
Lecture (Day 3 – up close and personal, a whole day with Mr. Marcel), 4-11-10
Masih dengan tema yang down to earth dengan kondisi riil di Indonesia, sang lecturer kembali beraksi dengan penuh semangat, memaparkan semua bentuk hambatan dan kendala yang dipotetnya dari kondisi industri hortikultura di Indonesia, sekaligus membandingkannya dengan negara-negara lain yang lebih cepat mengukir kemajuan seperti Thailand dan Vietnam. Dan lagi-lagi kita dibuat terkesima dengan kemampuannya dalam menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran semua peserta yang seolah2 sedang tertantang untuk bisa mengungkapkan pendapat dan pikirannya seperti pesan dari Ms. Suzan di hari pertama lecture......
Sepanjang perkuliahan aku dibuat salut dan terkagum-kagum dengan stamina dari sang pengajar yang tidak sedikitpun mengalami penurunan dari pagi hingga sore hari. Terlihat dengan amat jelas, tiadanya perubahan dari nada suara maupun irama emosi dari awal hingga akhir jam pelajaran......that’s really amazing, salute and deep appreciation for him..............
Secara khusus aku juga dibuat kagum dan perlu mengacungkan jempol bagi semangat teman-teman sesama peserta yang demikian antusias dan terus mencoba ‘terlibat’ lebih dekat dengan tema/materi yang disampaikan oleh sang pengajar. Nampak sekali pembekalan dan pesan hari pertama dari sang motivator (Ms. Suzan) demikian merasuk dan mengilhami kita semua untuk tidak lagi malu-malu..........it’s a kind of an achievement we should appreciate.......
Seusai pelajaran, kitapun berkesempatan menikmati suasana malam di tengah kota Den Bosch, berjalan di koridor pertokoan sekitar city hall, berfoto ria dengan segala kenarsisannya, dan diakhiri dengan makan fast food di Mc Donnald berempat (teman se-bungalow). Di restoran cepat saji tersebut, kita berkesempatan menikmati makanan dengan cita rasa yang amat familiar dengan lidahku, puas rasanya, ditambah dengan kepuasan yg lain karena bisa ber internet ria melalui fasilitas wi-fi gratis maupun berlama2 melakukan window shopping di toko fashion yg terhubung langsung dengan Mc Donnald.......Cuma saja ketika saatnya kita mesti kembali ke meeting point alias tempat parkir bis jemputan, kita sempat dibuat panik, karena tidak bisa menemukan jalan kembali dengan cepat. Akhirnya setelah paksakan diri bertanya pada seseorang, kitapun dapat yakin menemukan tempat jemputan tersebut, namun harus berkorban berjalan amat cepat plus nafas yang terengah-engah..........bis dapat kita temukan di detik2 terakhir batas waktu yang dijanjikan, Thanks God!!!
Benchmarking to Netherland (3. Der Parel.........)
Living in the Bungalow of Der Parel.........
Der Parel alias The Pearl alias Mutiara berlokasi di sebuah kawasan pedesaan Oisterwijk yang dikelilingi dengan hutan sub tropis, mayoritas berupa pohon maple yang sedang mengalami perubahan warna alias dechlorofilasi. Saat melewati jalanan menuju ke lokasi bungalow, tak henti-hentinya kita dibuat tertegun sekaligus muncul perasaan a litle bit frightened, mengingat lokasi yang demikian sunyi sepi nir aktivitas manusia sekaligus tersembunyi dibalik hutan berhiaskan dedaunan aneka warna, sebuah satu kesatuan suasana yang tak pelak menghadirkan sensasi tersendiri, bagi sebagian peserta mau tak mau juga menyebabkan munculnya perasaan homesick yang datangnya seolah dipercepat........
Namun suasana yang menghadirkan rasa takut dan khawatir akan adanya gangguan mahluk hidup maupun gangguan dari kehidupan lain, lambat laun menghilang oleh adanya suasana keramahan yang coba ditunjukkan oleh koordinator pelatihan (Mr. Toine dan Ms. Kim) maupun para pengelola penginapan. Keakraban suasana tercipta di saat kebersamaan makan siang, simple meeting maupun makan malam yang diselenggarakan khusus sebagai bagian dari welcoming hospitality ala negeri Belanda.......Perasaan kebersamaan juga tercipta antara kita para peserta, utamanya yang tinggal dalam satu bungalow. Aku sendiri berempat dengan ibu lainnya mencoba menyatukan denyut nafas kebersamaan, at least for one month ahead, termasuk mengalahkan ego untuk tinggal sendirian dalam satu kamar. Mengingat teman lain yang menghendaki tidur di lantai atas semua demi kebersamaan dan mempermudah koordinasi maupun pengawasan, maka akupun menyediakan diri tidur berdua satu kamar di lantai atas, sementara satu kamar di lantai bawah kita biarkan kosong .....
Begitulah dari jam ke jam kita coba melewatkan kebersamaan really such a happy family, mencoba mengesampingkan segala barier dan kendala maupun perbedaan diantara kita. Semuanya harus diperjuangkan bersama bagi keuntungan bersama pula.....................
Der Parel alias The Pearl alias Mutiara berlokasi di sebuah kawasan pedesaan Oisterwijk yang dikelilingi dengan hutan sub tropis, mayoritas berupa pohon maple yang sedang mengalami perubahan warna alias dechlorofilasi. Saat melewati jalanan menuju ke lokasi bungalow, tak henti-hentinya kita dibuat tertegun sekaligus muncul perasaan a litle bit frightened, mengingat lokasi yang demikian sunyi sepi nir aktivitas manusia sekaligus tersembunyi dibalik hutan berhiaskan dedaunan aneka warna, sebuah satu kesatuan suasana yang tak pelak menghadirkan sensasi tersendiri, bagi sebagian peserta mau tak mau juga menyebabkan munculnya perasaan homesick yang datangnya seolah dipercepat........
Namun suasana yang menghadirkan rasa takut dan khawatir akan adanya gangguan mahluk hidup maupun gangguan dari kehidupan lain, lambat laun menghilang oleh adanya suasana keramahan yang coba ditunjukkan oleh koordinator pelatihan (Mr. Toine dan Ms. Kim) maupun para pengelola penginapan. Keakraban suasana tercipta di saat kebersamaan makan siang, simple meeting maupun makan malam yang diselenggarakan khusus sebagai bagian dari welcoming hospitality ala negeri Belanda.......Perasaan kebersamaan juga tercipta antara kita para peserta, utamanya yang tinggal dalam satu bungalow. Aku sendiri berempat dengan ibu lainnya mencoba menyatukan denyut nafas kebersamaan, at least for one month ahead, termasuk mengalahkan ego untuk tinggal sendirian dalam satu kamar. Mengingat teman lain yang menghendaki tidur di lantai atas semua demi kebersamaan dan mempermudah koordinasi maupun pengawasan, maka akupun menyediakan diri tidur berdua satu kamar di lantai atas, sementara satu kamar di lantai bawah kita biarkan kosong .....
Begitulah dari jam ke jam kita coba melewatkan kebersamaan really such a happy family, mencoba mengesampingkan segala barier dan kendala maupun perbedaan diantara kita. Semuanya harus diperjuangkan bersama bagi keuntungan bersama pula.....................
Benchmarking to Netherland (2. On Flight.........31 oct 2010)
On flight (Sby - KL – Amst), 31 October 2010
Carilah ilmu sampai ke Negeri China, demikian salah satu sabda Nabi Muhammad yang sangat terkenal. Namun saat ini sebanyak 16 orang tengah menjalani amanah yang diembannya untuk mencari ilmu hortikultura hingga ke Negeri Belanda...................Dan sangat melegakan hati bahwa program langka dan berharga ini memberiku sebuah kesempatan untuk me-recharge isi kepala dengan wawasan dan pengetahuan bernuansa ‘abroad training’ dengan tema sentral mengenai “ Export Management and Global Trade on Horticulture”.
Dan inilah saat-saat perjalanan panjang menuju daratan Eropa, diawali dengan segala persiapan bagi tampilan diri teraman di daerah yang relatif dingin beserta antisipasi perlengkapan bawaan yang diusahakan serba original. Beban untuk mendulang ilmu semakin memuncak saat keberangkatan dengan pesawat yang makan waktu tempuh lebih dari 16 jam.......Perjalanan nan super melelahkan dalam maskapai penerbangan milik Negeri Serumpun yang menggunakan akronim MH (Malaysian Hospitality) antara Surabaya – KL dilanjut dengan KL - Amsterdam, sungguh membawa cerita kebersamaan tersendiri........
Mulai dari saat penundaan penerbangan dari Bandara Juanda yang menyebabkan kita mesti berlari-lari di tengah malam di Bandara Kualalumpur mengejar penerbangan lanjutan ke NL, sementara penumpang lain telah memenuhi kabin pesawat Boeing 747 dan para kru pesawat terlihat cemas menunggu keterlambatan kita.......Selanjutnya dalam penerbangan panjang lebih dari 12 jam dari, kita coba melewatinya dengan keasyikan masing-masing di depan layar monitor, yang menyajikan pilihan aneka program flight entertainment. Di sela-sela kegiatan menghibur diri masih juga disajikan hidangan makan malam maupun pagi dengan menu yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi........
Kepenatan akibat kelamaan duduk akhirnya usai juga saat kita mendarat di Schiphol Airport-Amsterdam, namun disinipun kita mesti bersabar dengan jenis kepenatan yang lain saat melewati bagian imigrasi dan mereka tak memberikan ijin lewat begitu saja, dengan aneka alasan merekapun menghambat kecepatan kita untuk segera keluar dari area bandara. Agak kesal juga, kedatangan kita yang semestinya bersifat sebagai perwakilan alias duta bangsa, mesti dipertanyakan oleh para petugas imigrasi yang secara penampilan fisik masih demikian hijau (namun justru amat patuh pada SOP yang menjadi panduan kerjanya......)
Syukurlah setelah bertahan menunggu sekitar 2 jam kitapun bisa meninggalkan kounter imigrasi yang diakhiri pula dengan sajian teh hangat yang dibuatkan untuk kita semua, the only hospitality they show for us.......dan di ujung pintu kedatangan kita telah dijemput oleh perwakilan dari HAS den Bosch University dan kitapun kembali harus menempuh perjalanan darat dengan bus menuju basecamp di suatu tempat pinggiran kota bernama De Parel – Oisterwijk, such countryside place, berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Hertogenbosch......
Carilah ilmu sampai ke Negeri China, demikian salah satu sabda Nabi Muhammad yang sangat terkenal. Namun saat ini sebanyak 16 orang tengah menjalani amanah yang diembannya untuk mencari ilmu hortikultura hingga ke Negeri Belanda...................Dan sangat melegakan hati bahwa program langka dan berharga ini memberiku sebuah kesempatan untuk me-recharge isi kepala dengan wawasan dan pengetahuan bernuansa ‘abroad training’ dengan tema sentral mengenai “ Export Management and Global Trade on Horticulture”.
Dan inilah saat-saat perjalanan panjang menuju daratan Eropa, diawali dengan segala persiapan bagi tampilan diri teraman di daerah yang relatif dingin beserta antisipasi perlengkapan bawaan yang diusahakan serba original. Beban untuk mendulang ilmu semakin memuncak saat keberangkatan dengan pesawat yang makan waktu tempuh lebih dari 16 jam.......Perjalanan nan super melelahkan dalam maskapai penerbangan milik Negeri Serumpun yang menggunakan akronim MH (Malaysian Hospitality) antara Surabaya – KL dilanjut dengan KL - Amsterdam, sungguh membawa cerita kebersamaan tersendiri........
Mulai dari saat penundaan penerbangan dari Bandara Juanda yang menyebabkan kita mesti berlari-lari di tengah malam di Bandara Kualalumpur mengejar penerbangan lanjutan ke NL, sementara penumpang lain telah memenuhi kabin pesawat Boeing 747 dan para kru pesawat terlihat cemas menunggu keterlambatan kita.......Selanjutnya dalam penerbangan panjang lebih dari 12 jam dari, kita coba melewatinya dengan keasyikan masing-masing di depan layar monitor, yang menyajikan pilihan aneka program flight entertainment. Di sela-sela kegiatan menghibur diri masih juga disajikan hidangan makan malam maupun pagi dengan menu yang terkadang membuat kita mengerutkan dahi........
Kepenatan akibat kelamaan duduk akhirnya usai juga saat kita mendarat di Schiphol Airport-Amsterdam, namun disinipun kita mesti bersabar dengan jenis kepenatan yang lain saat melewati bagian imigrasi dan mereka tak memberikan ijin lewat begitu saja, dengan aneka alasan merekapun menghambat kecepatan kita untuk segera keluar dari area bandara. Agak kesal juga, kedatangan kita yang semestinya bersifat sebagai perwakilan alias duta bangsa, mesti dipertanyakan oleh para petugas imigrasi yang secara penampilan fisik masih demikian hijau (namun justru amat patuh pada SOP yang menjadi panduan kerjanya......)
Syukurlah setelah bertahan menunggu sekitar 2 jam kitapun bisa meninggalkan kounter imigrasi yang diakhiri pula dengan sajian teh hangat yang dibuatkan untuk kita semua, the only hospitality they show for us.......dan di ujung pintu kedatangan kita telah dijemput oleh perwakilan dari HAS den Bosch University dan kitapun kembali harus menempuh perjalanan darat dengan bus menuju basecamp di suatu tempat pinggiran kota bernama De Parel – Oisterwijk, such countryside place, berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Hertogenbosch......
Benchmarking to Netherland (1. From Nothing to Something)
Banyak hal terkadang berawal dari sesuatu yang tidak disengaja, sesuatu yang tiada sedikitpun kita tahu apa dan mengapa, seuatu yang tiada pada awalnya.................namun oleh sebuah proses penggalian dan pemaknan lebih lanjut menjadikannya sebagai sesuatu yang menjadi ada bahkan terlebih lagi menjadi demikian bermakna....................
Hal itu pulalah rupanya yang tengah aku perankan dalam menerima sebuah tugas dan tanggung jawab ikut terlibat ‘membidani’ lahirnya sebuah kegiatan prestisius berupa pelatihan teknis hortikultura di Negeri Belanda, selama 1 bulan. Sebagai pemilik anggaran dan penyelenggara kegiatan ini adalah pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur (cq. Biro Admistrasi Kerjasama) dan Kedutaan Besar Belanda (cq. Netherland Education Support Office – NESO Indonesia). Sementara Dinas Pertanian Jawa Timur bertanggung jawab dalam mempersiapkan usulan detail kegiatan sekaligus menjaring calon peserta taylor-made training yang berjudul Export Management and Global Trade on Horticulture tersebut.
Berawal dari ketidaktahuan tentang apa, mengapa dan bagaimana kegiatan tersebut akan digulirkan, maka sebagai seorang staf aku hanya bisa menerima tugas tersebut dengan segala konsekuensinya. Berikutnya melalui upaya penjelajahan lebih lanjut, pelan tapi pasti titik terang pun mulai nampak. Setapak demi setapak jalan mulai terbuka, meski harus melalui alokasi waktu ekstra untuk mengkoordinasikan dengan semua pihak terkait. Mencoba menempatkan diri sebagai seorang liaison officer alias petugas penghubung yang bekerja secara profesional, mencoba menghubungkan kepentingan semua pihak mulai dari pemilik kegiatan (Pemprov Jatim dan NESO) dan terlebih kepentingan dan harapan dari para calon peserta........
Tahap demi tahap kita ikuti dan laksanakan sesuai prosedur, mulai dari penyiapan proposal, penjaringan peserta, upgrading alias kursus intensif bhs inggris, wawancara hingga pengumuman yang selalu berusaha disampaikan sesuai prosedur dan transparan. Tanpa sedikitpun ada upaya intervensi mengingat semua pihak terkait telah berkomitmen untuk melaksanakan fungsi dan tanggung jawab masing-masing...............Proses panjang seleksi berlangsung dengan segala tanggapan pro-kontra dari siapapun yang berminat untuk berkomentar. Sebagai calon peserta sekaligus seseorang yang sejak awal terlibat amat intens dengan kegiatan ini, seringkali akupun dibuat sedikit ‘gamang’ dengan segala perkembangan yang terjadi di sepanjang proses seleksi tersebut, ada kegelisahan ekstra manakala harus berperan sebagai subjek sekaligus obyek dari kegitan ini ......
Begitulah, singkat cerita sebanyak 16 orang (dari 28 orang calon yang diusulkan) secara resmi diloloskan sebagai penerima award/scholarship oleh pihak NESO......Selanjutnya proses pembekalan resmi maupun persiapan personal mulai dilakukan oleh masing2 hingga pemberangkatan kita meninggalkan tanah air pada tanggal 31 Oktober 2010. Semua tahapan pra, jelang maupun saat keberangkatan menyiratkan banyak cerita tersendiri, yang bersifat personal maupun non personal....Tampak nyata terlihat adanya semangat dari masing-masing peserta dalam memulai petualangan untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dari negeri Kincir Angin. Bagiku sendiri kesempatan bergabung dengan program pelatihan ini, lagi-lagi sebagai seorang long-life learner, sungguh merupakan sebuah anugerah besar yang perlu untuk terus disyukuri. Bersyukur telah diberi kemudahan berkontribusi dalam menghadirkan kegiatan yang semula belum ada menjadi ada, bersyukur untuk membantu mewujudkan sebagian dari mimpi kita menjadi kenyataan.......From Nothing to Something, From Dream become Reality......
And here we are, enhancing our knowledge at Has den Bosch Univ...............
Hal itu pulalah rupanya yang tengah aku perankan dalam menerima sebuah tugas dan tanggung jawab ikut terlibat ‘membidani’ lahirnya sebuah kegiatan prestisius berupa pelatihan teknis hortikultura di Negeri Belanda, selama 1 bulan. Sebagai pemilik anggaran dan penyelenggara kegiatan ini adalah pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur (cq. Biro Admistrasi Kerjasama) dan Kedutaan Besar Belanda (cq. Netherland Education Support Office – NESO Indonesia). Sementara Dinas Pertanian Jawa Timur bertanggung jawab dalam mempersiapkan usulan detail kegiatan sekaligus menjaring calon peserta taylor-made training yang berjudul Export Management and Global Trade on Horticulture tersebut.
Berawal dari ketidaktahuan tentang apa, mengapa dan bagaimana kegiatan tersebut akan digulirkan, maka sebagai seorang staf aku hanya bisa menerima tugas tersebut dengan segala konsekuensinya. Berikutnya melalui upaya penjelajahan lebih lanjut, pelan tapi pasti titik terang pun mulai nampak. Setapak demi setapak jalan mulai terbuka, meski harus melalui alokasi waktu ekstra untuk mengkoordinasikan dengan semua pihak terkait. Mencoba menempatkan diri sebagai seorang liaison officer alias petugas penghubung yang bekerja secara profesional, mencoba menghubungkan kepentingan semua pihak mulai dari pemilik kegiatan (Pemprov Jatim dan NESO) dan terlebih kepentingan dan harapan dari para calon peserta........
Tahap demi tahap kita ikuti dan laksanakan sesuai prosedur, mulai dari penyiapan proposal, penjaringan peserta, upgrading alias kursus intensif bhs inggris, wawancara hingga pengumuman yang selalu berusaha disampaikan sesuai prosedur dan transparan. Tanpa sedikitpun ada upaya intervensi mengingat semua pihak terkait telah berkomitmen untuk melaksanakan fungsi dan tanggung jawab masing-masing...............Proses panjang seleksi berlangsung dengan segala tanggapan pro-kontra dari siapapun yang berminat untuk berkomentar. Sebagai calon peserta sekaligus seseorang yang sejak awal terlibat amat intens dengan kegiatan ini, seringkali akupun dibuat sedikit ‘gamang’ dengan segala perkembangan yang terjadi di sepanjang proses seleksi tersebut, ada kegelisahan ekstra manakala harus berperan sebagai subjek sekaligus obyek dari kegitan ini ......
Begitulah, singkat cerita sebanyak 16 orang (dari 28 orang calon yang diusulkan) secara resmi diloloskan sebagai penerima award/scholarship oleh pihak NESO......Selanjutnya proses pembekalan resmi maupun persiapan personal mulai dilakukan oleh masing2 hingga pemberangkatan kita meninggalkan tanah air pada tanggal 31 Oktober 2010. Semua tahapan pra, jelang maupun saat keberangkatan menyiratkan banyak cerita tersendiri, yang bersifat personal maupun non personal....Tampak nyata terlihat adanya semangat dari masing-masing peserta dalam memulai petualangan untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dari negeri Kincir Angin. Bagiku sendiri kesempatan bergabung dengan program pelatihan ini, lagi-lagi sebagai seorang long-life learner, sungguh merupakan sebuah anugerah besar yang perlu untuk terus disyukuri. Bersyukur telah diberi kemudahan berkontribusi dalam menghadirkan kegiatan yang semula belum ada menjadi ada, bersyukur untuk membantu mewujudkan sebagian dari mimpi kita menjadi kenyataan.......From Nothing to Something, From Dream become Reality......
And here we are, enhancing our knowledge at Has den Bosch Univ...............
Langganan:
Postingan (Atom)