Merupakan acara kunjungan wisata yang difasilitasi oleh Has den Bosch dan dipandu langsung oleh sang koordinator pelatihan beserta Mr. Marius, seorang kolega salah satu peserta pelatihan (Pak Slamet Brenjonk). Peserta pelatihan yang mengikuti kunjungan hanya sejumlah 10 orang, lainnya telah memiliki agenda masing-masing. Ikut pula dalam rombongan dua orang tamu International Affair HAS yang berasal dari Latvia......................
Penentuan lokasi kunjungan wisata ini disertai dengan pertimbangan yang amat rapi dan matang, mengingat pihak universitas harus bisa mempertanggung jawabkannya ke penyandang dana (NESO). Sejak awal sudah diinformasikan bahwa sangat tidak memungkinkan difasilitasinya acara kunjungan ke obyek yang bersifat turistik semata, seperti Madurodam dan Volendam. Dan memang benar obyek wisata bernama Delta Park Neeltje Jan ini terbukti memiliki nilai lebih, tentang bagaimana negeri yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut ini dapat membentengi diri dari bahaya banjir akibat air pasang Laut Utara (seperti yang terjadi di tahun 1953 dengan korban sekitar 2000 orang meninggal), dengan dibangunnya pintu air/bendungan yang menggunakan teknologi rancang bangun tercanggih.........
Terlepas dari arti penting terhadap keberlangsungan kehidupan bangsa Belanda, kunjungan ke obyek wisata yang berada di wilayah Zeeland ini telah memberikan keceriaan tersendiri di week-end terakhir kita. Kebersamaan dan keakraban berlangsung saat kita tak bosan-bosannya mengabadikan setiap sudut yang kita lewati, semakin menegaskan ciri khas baru kita : FOTO MANIA, everywhere......... For dutch people it’s probably a kind of strange and a litle bit ridiculous, but we really don’t care about that....................
Senin, 29 November 2010
Benchmarking to NL (19. Lecture, Arjan in Action.......), 19-11-2010
Diawali dengan peninjauan sejenak ke pertanaman tomat dalam laboratorium yang berada di bagian belakang gedung utama dan disambung dengan pelajaran kelas di gedung Duhamnel, sang charming lecturer menjelaskan tentang tatacara budidaya tomat yang banyak dilakukan di negeri Belanda maupun negara lain........Dengan kondisi agroklimat yang berbeda, tak ayal memberikan tatacara budidaya maupun produktivitas yang jelas berbeda pula, it’s totally different..........Untuk itu berulang kali si guru muda tersebut mengingatkan kita untuk menerapkan tatacara yang paling sesuai dengan kondisi negara kita, menyesuaikan aspek agroklimat maupun ketersediaan infrastruktur atau sarana dan prasarana yang ada............
Satu hal yang paling menarik dan membahagiakan bagiku adalah tatkala berhasil mengabadikan gaya dan gerak gerik sang guru melalui video kamera, dengan total lama tayang sekitar 10 menit...... Benar-benar sebuah aset penting yang nantinya bisa dijadikan sebagai referensi bagi siapapun yang ingin tahu tentang bagaimana proses belajar mengajar berlangsung disini. Secara khusus video tersebut tentunya akan menjadi salah satu ‘koleksi’ mahal bagiku, sebagai media untuk memutar ulang segala pengalaman dan proses interaksi pencarian ilmu hortikultura di negeri tulip ini .............
Pelajaran bertanam tomat oleh Arjan berlangsung dengan amat cepat. Saat jam menunjukkan angka 12.00, diapun dengan segera mengakhiri aksinya, sementara kita para murid masih dibuat terbengong-bengong dengan tugas yang barusan diberikannya........Nyata terlihat dia begitu patuh pada alarm jadwal kegiatan yang barangkali demikian padat, ketimbang mencoba menggunakan empatinya untuk mencari tahu apakah para muridnya cukup paham dengan apa yang disampaikan. Begitulah orang muda, yang terkadang kurang mampu memberikan ekspresi kearifannya.........Secara bercanda akupun mengubah nama Arjan menjadi Arogan, meski secara jujur aku tidak menginginkan julukan negatif tersebut tertujukan untuknya, semoga dia bisa lebih arif dikemudian hari...............
Pelajaran sore hari, kita kembali menuju ke gedung utama. Kali ini kita langsung menuju ruang kuliah di sekitar laboratorium dan mendapatkan materi menarik oleh dosen senior (prof Jasper) tentang kondisi global...........quite intesting and really enhance our point of view.......dan yang lebih melegakan lagi adalah kesempatan untuk melihat langsung sebuah eksperimen terbaru, yakni bertanam sayuran dan buah semusim di dalam ruang tertutup (Climate Chamber) dengan sumber pencahayaan dari lampu LED ..........the other interesting knowledge for today.................
Perkuliahan berakhir agak lebih awal dan kita berkesempatan pergi belanja oleh-oleh (untuk yang kesekian kalinya)........ di Den Bosch centrum, tepatnya di toko souvenir yang memiliki harga jual relatif miring. Akupun membeli beberapa souvenir untuk melengkapi banyak souvenir lainnya yang telah menumpuk di koper........
Malam hari suasana di Bungalow 28 terasa sedikit berbeda karena adanya kunjungan tamu (Rina temanku kuliah dan teman bu Luki)......cukup semarak dan ramai dengan aneka cerita. Bagiku sendiri pertemuan kedua kalinya dengan Rina sekeluarga ini sungguh demikian membahagiakan karena memberiku kesempatan untuk memainkan peran sebagai seorang yang muncul dari dasar lautan dan tengah mencoba membangun kembali tali silaturahmi yang pernah hadir 20 tahun lalu.......... betapa waktu telah berjalan demikian cepat...........oh, how time really really flies!!!!
Satu hal yang paling menarik dan membahagiakan bagiku adalah tatkala berhasil mengabadikan gaya dan gerak gerik sang guru melalui video kamera, dengan total lama tayang sekitar 10 menit...... Benar-benar sebuah aset penting yang nantinya bisa dijadikan sebagai referensi bagi siapapun yang ingin tahu tentang bagaimana proses belajar mengajar berlangsung disini. Secara khusus video tersebut tentunya akan menjadi salah satu ‘koleksi’ mahal bagiku, sebagai media untuk memutar ulang segala pengalaman dan proses interaksi pencarian ilmu hortikultura di negeri tulip ini .............
Pelajaran bertanam tomat oleh Arjan berlangsung dengan amat cepat. Saat jam menunjukkan angka 12.00, diapun dengan segera mengakhiri aksinya, sementara kita para murid masih dibuat terbengong-bengong dengan tugas yang barusan diberikannya........Nyata terlihat dia begitu patuh pada alarm jadwal kegiatan yang barangkali demikian padat, ketimbang mencoba menggunakan empatinya untuk mencari tahu apakah para muridnya cukup paham dengan apa yang disampaikan. Begitulah orang muda, yang terkadang kurang mampu memberikan ekspresi kearifannya.........Secara bercanda akupun mengubah nama Arjan menjadi Arogan, meski secara jujur aku tidak menginginkan julukan negatif tersebut tertujukan untuknya, semoga dia bisa lebih arif dikemudian hari...............
Pelajaran sore hari, kita kembali menuju ke gedung utama. Kali ini kita langsung menuju ruang kuliah di sekitar laboratorium dan mendapatkan materi menarik oleh dosen senior (prof Jasper) tentang kondisi global...........quite intesting and really enhance our point of view.......dan yang lebih melegakan lagi adalah kesempatan untuk melihat langsung sebuah eksperimen terbaru, yakni bertanam sayuran dan buah semusim di dalam ruang tertutup (Climate Chamber) dengan sumber pencahayaan dari lampu LED ..........the other interesting knowledge for today.................
Perkuliahan berakhir agak lebih awal dan kita berkesempatan pergi belanja oleh-oleh (untuk yang kesekian kalinya)........ di Den Bosch centrum, tepatnya di toko souvenir yang memiliki harga jual relatif miring. Akupun membeli beberapa souvenir untuk melengkapi banyak souvenir lainnya yang telah menumpuk di koper........
Malam hari suasana di Bungalow 28 terasa sedikit berbeda karena adanya kunjungan tamu (Rina temanku kuliah dan teman bu Luki)......cukup semarak dan ramai dengan aneka cerita. Bagiku sendiri pertemuan kedua kalinya dengan Rina sekeluarga ini sungguh demikian membahagiakan karena memberiku kesempatan untuk memainkan peran sebagai seorang yang muncul dari dasar lautan dan tengah mencoba membangun kembali tali silaturahmi yang pernah hadir 20 tahun lalu.......... betapa waktu telah berjalan demikian cepat...........oh, how time really really flies!!!!
Benchmarking to NL (18. Dinner at Bungalow 28), 18-11-2010
Lecture hari ini berlangsung sedikit berbeda dengan biasanya........Oleh sang pengajar (Ineke) kita diminta menyiapkan paparan singkat tentang bagaimana mengusahakan 4 (empat) contoh komoditas yang dilakukan di Indonesia beserta permasalahan yang dihadapi dan diharapkan mendapat masukan dari sang pengajar.............Rupanya pihak penyelenggara pelatihan sudah berusaha memperbaiki sistem pengajaran yang memberikan ruang bagi dibahasnya kasus Indonesia. Secara umum perkuliahan berlangsung lancar, bahkan terkesan sedikit monoton, mungkin kita mulai merasa kecapaian dan overload dengan semua materi perkuliahan yang diberikan selama ini.........
Seusai kuliah kelas kita masih diajak mengunjungi sebuah toko yang menjual aneka produk pertanian beserta fasilitas pendukungnya, mereka menyebutnya INTRATUIN........Waktu berkunjung mesti dihemat karena setelah ini kita bakalan punya hajatan penting, yakni menyiapkan makan malam bersama yang bertempat di Bungalow 28, dengan menggabungkan aneka makanan yang dibuat dari masing-masing bungalow.........Tamu istimewa kita adalah 3 (tiga) orang pengajar (Toine, Marcel dan Ineke yang mengajak putrinya bernama Marjolane). Benar-benar kita menjadi dibuat sibuk mempersiapkan tempat dan hidangan yang sekiranya tidak membuat mereka kehilangan nafsu makan.........Dan saat tepat menunjukkan jam 7 malam, kitapun mulai berkumpul dan lumayan berdesak-desakan, mencoba menikmati semua jenis makanan yang tersedia, sekaligus berulangkali mengabadikan moment tersebut dengan jepretan kamera masing-masing........rupanya gejala narsisme menjadi ciri baru bagi orang Indonesia manakala sedang berada di negeri orang..............
Usai makan malam, acara inti menunggu berupa asistensi dari para dosen untuk tugas business plan yang menjadi penutup alias tugas akhir dari pelatihan ini. Tugas akhir ini diharapkan bukan hanya sekedar tugas tetapi sedapat mungkin nantinya bisa diimplementasikan oleh pelaku usaha (dalam hal ini Bu Luki). Kitapun memisahkan diri sesuai kelompok masing-masing........Kelompokku sendiri yang terdiri dari 4 (empat) orang hingga saat ini masih belum juga mendapatkan kepastian tentang apapun yang akan dikerjakan dengan tugas tersebut, namun dengan segala kesabaran Mr. Marcell berusaha ikut membantu menemukan pokok permasalahan dan tema yang ingin digarap oleh kelompok kita.........
Dan saat sudah menunjukkan jam 22.00 kita pun kembali berkumpul di bungalow 28, kembali mencoba mengakrabkan diri dengan tamu2 kita, terutama diriku yang lagi-lagi berusaha mencari kesempatan untuk berinteraksi dengan sang koordinator pelatihan.......so, semuanya merasa happy dan mengakhiri acara malam ini dengan bersih2 sisa makanan maupun peralatan yang lumayan menumpuk.......The Dinner itself has done smootly, but not of our business case assigment.......
Seusai kuliah kelas kita masih diajak mengunjungi sebuah toko yang menjual aneka produk pertanian beserta fasilitas pendukungnya, mereka menyebutnya INTRATUIN........Waktu berkunjung mesti dihemat karena setelah ini kita bakalan punya hajatan penting, yakni menyiapkan makan malam bersama yang bertempat di Bungalow 28, dengan menggabungkan aneka makanan yang dibuat dari masing-masing bungalow.........Tamu istimewa kita adalah 3 (tiga) orang pengajar (Toine, Marcel dan Ineke yang mengajak putrinya bernama Marjolane). Benar-benar kita menjadi dibuat sibuk mempersiapkan tempat dan hidangan yang sekiranya tidak membuat mereka kehilangan nafsu makan.........Dan saat tepat menunjukkan jam 7 malam, kitapun mulai berkumpul dan lumayan berdesak-desakan, mencoba menikmati semua jenis makanan yang tersedia, sekaligus berulangkali mengabadikan moment tersebut dengan jepretan kamera masing-masing........rupanya gejala narsisme menjadi ciri baru bagi orang Indonesia manakala sedang berada di negeri orang..............
Usai makan malam, acara inti menunggu berupa asistensi dari para dosen untuk tugas business plan yang menjadi penutup alias tugas akhir dari pelatihan ini. Tugas akhir ini diharapkan bukan hanya sekedar tugas tetapi sedapat mungkin nantinya bisa diimplementasikan oleh pelaku usaha (dalam hal ini Bu Luki). Kitapun memisahkan diri sesuai kelompok masing-masing........Kelompokku sendiri yang terdiri dari 4 (empat) orang hingga saat ini masih belum juga mendapatkan kepastian tentang apapun yang akan dikerjakan dengan tugas tersebut, namun dengan segala kesabaran Mr. Marcell berusaha ikut membantu menemukan pokok permasalahan dan tema yang ingin digarap oleh kelompok kita.........
Dan saat sudah menunjukkan jam 22.00 kita pun kembali berkumpul di bungalow 28, kembali mencoba mengakrabkan diri dengan tamu2 kita, terutama diriku yang lagi-lagi berusaha mencari kesempatan untuk berinteraksi dengan sang koordinator pelatihan.......so, semuanya merasa happy dan mengakhiri acara malam ini dengan bersih2 sisa makanan maupun peralatan yang lumayan menumpuk.......The Dinner itself has done smootly, but not of our business case assigment.......
Benchmarking to NL (17. Excursion, Wageningen and Marjoland Roses), 17-11-2010
Kembali kita melakukan kunjungan lapangan seharian, kali ini dipandu oleh Ineke, ke dua tempat yang relatif berdekatan, yakni Wageningen Research Centre dan Roses Grower (Marjoland). Di lokasi pertama kita disuguhi dengan 3 (tiga) proyek inovasi pemanfaatan energi secara berkelanjutan terkait dengan pengembangan glasshouse yang tengah dilakukan oleh salah satu universitas sains terkenal negeri ini.
Memang semua proyek yang dijelaskan terkesan demikian sophisticated dan rasanya masih teramat jauh dari jangkauan kita untuk mengadopsinya. Namun semua ide dan gagasan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi yang tersedia di masing-masing wilayah, merupakan sesuatu yang layak dikedepankan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kunjungan berikutnya ke sebuah perusahaan besar (roses grower) yang dikendalikan oleh keluarga imigran Polandia. Dengan total luas pertanaman mencapai 20 hektar, semuanya didalam glasshouse, dan hanya memiliki tenaga kerja sebanyak 180 orang, lagi-lagi menunjukkan betapa efisiennya pengelolaan setiap perusahaan agribisnis yang kita kunjungi, tidak perduli apakah dikelola oleh orang Belanda asli maupun para imigran........
Satu kesan khusus yang diperoleh dari kunjungan ke Marjoland ini adalah bagaimana sang pengelola perusahaan (Johan, 2nd Generation of Polish family) demikian passioned dengan bidang usaha yang digelutinya. Berulang kali sang manajer muda ini mengungkapkan strategi dan kiat bisnisnya dengan muatan filosofi yang demikian mendalam................Sangat mengesankan dan memberikan motivasi bagi siapapun yang telah memantapkan pilihan usahanya untuk bergerak di bidang produksi aneka hasil segar pertanian, yang memang memiliki resiko lebih besar dibandingkan jenis usaha lainnya.
Memang semua proyek yang dijelaskan terkesan demikian sophisticated dan rasanya masih teramat jauh dari jangkauan kita untuk mengadopsinya. Namun semua ide dan gagasan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi yang tersedia di masing-masing wilayah, merupakan sesuatu yang layak dikedepankan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kunjungan berikutnya ke sebuah perusahaan besar (roses grower) yang dikendalikan oleh keluarga imigran Polandia. Dengan total luas pertanaman mencapai 20 hektar, semuanya didalam glasshouse, dan hanya memiliki tenaga kerja sebanyak 180 orang, lagi-lagi menunjukkan betapa efisiennya pengelolaan setiap perusahaan agribisnis yang kita kunjungi, tidak perduli apakah dikelola oleh orang Belanda asli maupun para imigran........
Satu kesan khusus yang diperoleh dari kunjungan ke Marjoland ini adalah bagaimana sang pengelola perusahaan (Johan, 2nd Generation of Polish family) demikian passioned dengan bidang usaha yang digelutinya. Berulang kali sang manajer muda ini mengungkapkan strategi dan kiat bisnisnya dengan muatan filosofi yang demikian mendalam................Sangat mengesankan dan memberikan motivasi bagi siapapun yang telah memantapkan pilihan usahanya untuk bergerak di bidang produksi aneka hasil segar pertanian, yang memang memiliki resiko lebih besar dibandingkan jenis usaha lainnya.
Benchmarking to NL (16. Lecture, Last Lecture from Mr. Frank Cruise), 16 -11-2010
Menjadi kesempatan terakhir kita bertatap muka dan mendapatkan pelajaran dari Sang Bintang. Dan diapun mengawali presentasinya dengan menampilkan slide awal yang bergambar Tom Cruise sebagai pengajar dari materi yang akan diberikan hari ini......sebuah pembukaan yang demikian menyegarkan dan cukup menggelitik, khas seorang Frank Cruise yang benar-benar informal dan selalu penuh kejutan..........
Ketidak-formalan maupun un-commonly thing juga ditunjukkannya saat menyampaikan materi yang bertema teknologi produksi buah-buahan. Sejak awal dia telah memagari hanya akan memberikan gambaran tentang bagaimana usahatani buah-buahan dari sudut pandang yang berbeda, yang semestinya selalu berorientasi pada kebutuhan pasar. Dia telah memastikan diri tidak akan berbicara tentang teknis budidaya masing-masing jenis tanaman, karena menurutnya akan sangat membosankan dan terlalu mudah untuk diperoleh dari berbagai jenis tulisan atau manual yang banyak dipublikasikan melalui aneka website yang ada.............
Memang demikianlah adanya, bicara tentang teknologi produksi rasanya akan jauh lebih mudah dilakukan ketimbang aspek lain yang berkaitan dengan bagaimana meng-create pasar sekaligus memperluas peluang pemasaran di dalam negeri maupun luar negeri.......Disela-sela penyampaian materinya, kembali selalu dilakukan aneka joke dan diskusi yang menambah keakraban kita dengan sang pengajar......Dan saat sore menjelang, kita akhiri pelajaran hari ini dengan pemberian cendera mata maupun session foto bersama yang dilakukan dengan penuh semangat dan keceriaan. Dan kebersamaan kitapun harus berakhir sampai disini disertai ucapan terima kasih yang tulus......Thanks so much Mr. Cruise, hope we’ll see you again in the near future..................
Seusai kuliah masih ada satu lagi agenda penting yang mesti dilakukan hari ini, yakni acara Makan Malam bersama di rumah Mr. Toine, bersama 2 orang teman (Mbak Dian dan Taufik)........Menurut banyak orang, diundang makan malam oleh sebuah keluarga di Negeri Belanda merupakan salah satu perwujudan rasa hormat dan apresiasi mereka terhadap kehadiran kita disini. Maka kita bertiga pun sangat antusias untuk hadir dan sedapat mungkin mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, termasuk membawa buah tangan untuk mereka sekeluarga......
Dan sesampai di rumah sang koordinator pelatihan tersebut, aroma keakraban mulai terasa, kita terlibat perbincangan yang hangat bersahabat dengan mereka berenam (bapak ibu plus 4 anak yang demikian intens terlibat dengan kebersamaan kita........). Sepanjang lebih 4,5 jam kita lewatkan keakraban kita berdelapan dengan ngobrol, makan dan bersuka cita dengan permainan tradisional bernama SJOELEN, sebuah adu ketangkasan menyerupai permainan Karambol........Benar-benar sebuah cara membangun keakraban dan kehangatan yang demikian berhasil, dan kitapun pulang dengan perasaan bahagia diantar langsung sampai didepan bungalow..............kita semua merasa bahagia karena adanya kebersamaan yang saling menghargai, bahagia karena mampu membangun komunikasi, bahagia karena berhasil mengesampingkan adanya perbedaan........
Ketidak-formalan maupun un-commonly thing juga ditunjukkannya saat menyampaikan materi yang bertema teknologi produksi buah-buahan. Sejak awal dia telah memagari hanya akan memberikan gambaran tentang bagaimana usahatani buah-buahan dari sudut pandang yang berbeda, yang semestinya selalu berorientasi pada kebutuhan pasar. Dia telah memastikan diri tidak akan berbicara tentang teknis budidaya masing-masing jenis tanaman, karena menurutnya akan sangat membosankan dan terlalu mudah untuk diperoleh dari berbagai jenis tulisan atau manual yang banyak dipublikasikan melalui aneka website yang ada.............
Memang demikianlah adanya, bicara tentang teknologi produksi rasanya akan jauh lebih mudah dilakukan ketimbang aspek lain yang berkaitan dengan bagaimana meng-create pasar sekaligus memperluas peluang pemasaran di dalam negeri maupun luar negeri.......Disela-sela penyampaian materinya, kembali selalu dilakukan aneka joke dan diskusi yang menambah keakraban kita dengan sang pengajar......Dan saat sore menjelang, kita akhiri pelajaran hari ini dengan pemberian cendera mata maupun session foto bersama yang dilakukan dengan penuh semangat dan keceriaan. Dan kebersamaan kitapun harus berakhir sampai disini disertai ucapan terima kasih yang tulus......Thanks so much Mr. Cruise, hope we’ll see you again in the near future..................
Seusai kuliah masih ada satu lagi agenda penting yang mesti dilakukan hari ini, yakni acara Makan Malam bersama di rumah Mr. Toine, bersama 2 orang teman (Mbak Dian dan Taufik)........Menurut banyak orang, diundang makan malam oleh sebuah keluarga di Negeri Belanda merupakan salah satu perwujudan rasa hormat dan apresiasi mereka terhadap kehadiran kita disini. Maka kita bertiga pun sangat antusias untuk hadir dan sedapat mungkin mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, termasuk membawa buah tangan untuk mereka sekeluarga......
Dan sesampai di rumah sang koordinator pelatihan tersebut, aroma keakraban mulai terasa, kita terlibat perbincangan yang hangat bersahabat dengan mereka berenam (bapak ibu plus 4 anak yang demikian intens terlibat dengan kebersamaan kita........). Sepanjang lebih 4,5 jam kita lewatkan keakraban kita berdelapan dengan ngobrol, makan dan bersuka cita dengan permainan tradisional bernama SJOELEN, sebuah adu ketangkasan menyerupai permainan Karambol........Benar-benar sebuah cara membangun keakraban dan kehangatan yang demikian berhasil, dan kitapun pulang dengan perasaan bahagia diantar langsung sampai didepan bungalow..............kita semua merasa bahagia karena adanya kebersamaan yang saling menghargai, bahagia karena mampu membangun komunikasi, bahagia karena berhasil mengesampingkan adanya perbedaan........
Benchmarking to NL (15. Excursion (A Whole day with the most charming ‘Arjan’), 15-11-2010
Nama lengkapnya adalah Arjan van Steekelenburg, a typical name for Holland person............. Kita sudah mengenal dan bertemu dengannya berulangkali, karena dia selalu menjadi pemandu saat acara kunjungan lapangan (excursion). Amat berbeda sekali dengan the other charming lecturer (Mr. Frank), dosen muda ini tampak lebih serius dan less joke even less understandable for us.......... Sikapnya yang serius tidaklah menjadi soal bagi kita, tapi cara berbicaranya yang demikian cepat dan selalu menggunakan kalimat yang panjang-panjang lah yang menghadirkan masalah bagi kita semua. Sehingga kita sering ketinggalan menangkap materi yang disampaikan........Untungnya kita berkesempatan menyampaikan permasalahan tersebut langsung kepadanya saat perjalanan menuju kunjungan lapangan dan dia bisa memakluminya.............
Acara kunjungan lapangan kali ini untuk bertemu langsung dengan 2 (dua) wakil vegetable grower, yang pertama ke petani perorangan dan yang kedua ke petani dengan skala perusahaan. Petani pertama (Van Putten) relatif masih sangat muda, well educated, mengusahakan aneka sayuran (kentang dan brussel sprout) secara monokultur dengan fasilitas yang amat lengkap dan lagi-lagi menggunakan tenaga kerja manusia dengan amat efisien (5 orang untuk 1 hektar pertanaman, bandingkan di Indonesia dengan 25 orang untuk 1 hektar.......). Dengan background pendidikan yang demikin sesuai, dia mampu mengelola usahataninya dengan baik, telah memiliki sertifikat Global GAP sebagai persyaratan memasok ke supermarket melalui packaging company, juga aneka inovasi di aspek agronomi maupun modifikasi peralatan dapat dilakukannya untuk meningkatkan profit usaha. Selalu begitu apabila petani muda menjalankan usahataninya dengan berbekal latar belakang edukasi yang memadai.......
Kunjungan kedua ke super grower skala perusahaan (LANS), merupakan bisnis keluarga dengan luas areal pertanaman 52 hektar khusus untuk tanaman Tomat. Lans dikelola oleh dua orang saudara, merupakan salah satu anggota asosiasi grower terkenal (Fres Q, Frestem) yang menjadi pemasok utama untuk TNI, salah satu unit usaha di Greenpack co, yang kita kunjungi minggu lalu........
Kita diajak melihat dari dekat areal pertanam Tomat cherry (Vine tomato) dibawah greenhouse tunggal seluas 9,2 ha dengan hanya sekitar 45 orang tenaga kerja.......really amazing !!!!. Disini kita mendapatkan penjelasan secara detail dari aspek pengelolaan tanaman hingga fasilitas pendukung, utamanya terkait dengan penyediaan bahan bakar untuk pemanas maupun perlistrikan. Sebuah penggabungan konsep efisiensi maupun fasilitasi investasi yang benar-benar luar biasa tatkala hal tersebut hanya dilakukan melalui sumber pembeayaan secara mandiri dari pemilik usaha yang bersangkutan, tanpa mesti menggantungkan pada fasilitasi dan campur tangan pemerintah.......
Begitulah, acara kunjungan lapang seharian ini kita lewati bersama, dipandu oleh ‘the charming Arjan’ dengan melihat secara langsung bagaimana ‘petani’ sayuran Belanda menjalankan aktivitas pengelolaan tanamannya, sekaligus secara bersama-sama mereka berusaha mendapatkan posisi tawar yang seimbang melalui asosiasi/group grower yang terbentuk sepenuhnya berdasarkan konsep bottom up.......Sedikit ironis dengan keberadaan asosiasi/kelompok tani di Indonesia yang kebanyakan tumbuh masih berdasarkan dorongan atau rangsangan dari atas top down approach........Satu lagi pelajaran dari sang pemandu, bahwa dalam memproduksi apapun jenis komoditas, hendaknya selalu berfikir market demand oriented. Terlebih mesti mempertimbangkan aspek higinies dan kecantikan produk yang dihasilkan dan sedapat mungkin melalui proses produksi yang aman dan ramah lingkungan....... such a valuable suggestion, danki well Arjan!!!!
Acara kunjungan lapangan kali ini untuk bertemu langsung dengan 2 (dua) wakil vegetable grower, yang pertama ke petani perorangan dan yang kedua ke petani dengan skala perusahaan. Petani pertama (Van Putten) relatif masih sangat muda, well educated, mengusahakan aneka sayuran (kentang dan brussel sprout) secara monokultur dengan fasilitas yang amat lengkap dan lagi-lagi menggunakan tenaga kerja manusia dengan amat efisien (5 orang untuk 1 hektar pertanaman, bandingkan di Indonesia dengan 25 orang untuk 1 hektar.......). Dengan background pendidikan yang demikin sesuai, dia mampu mengelola usahataninya dengan baik, telah memiliki sertifikat Global GAP sebagai persyaratan memasok ke supermarket melalui packaging company, juga aneka inovasi di aspek agronomi maupun modifikasi peralatan dapat dilakukannya untuk meningkatkan profit usaha. Selalu begitu apabila petani muda menjalankan usahataninya dengan berbekal latar belakang edukasi yang memadai.......
Kunjungan kedua ke super grower skala perusahaan (LANS), merupakan bisnis keluarga dengan luas areal pertanaman 52 hektar khusus untuk tanaman Tomat. Lans dikelola oleh dua orang saudara, merupakan salah satu anggota asosiasi grower terkenal (Fres Q, Frestem) yang menjadi pemasok utama untuk TNI, salah satu unit usaha di Greenpack co, yang kita kunjungi minggu lalu........
Kita diajak melihat dari dekat areal pertanam Tomat cherry (Vine tomato) dibawah greenhouse tunggal seluas 9,2 ha dengan hanya sekitar 45 orang tenaga kerja.......really amazing !!!!. Disini kita mendapatkan penjelasan secara detail dari aspek pengelolaan tanaman hingga fasilitas pendukung, utamanya terkait dengan penyediaan bahan bakar untuk pemanas maupun perlistrikan. Sebuah penggabungan konsep efisiensi maupun fasilitasi investasi yang benar-benar luar biasa tatkala hal tersebut hanya dilakukan melalui sumber pembeayaan secara mandiri dari pemilik usaha yang bersangkutan, tanpa mesti menggantungkan pada fasilitasi dan campur tangan pemerintah.......
Begitulah, acara kunjungan lapang seharian ini kita lewati bersama, dipandu oleh ‘the charming Arjan’ dengan melihat secara langsung bagaimana ‘petani’ sayuran Belanda menjalankan aktivitas pengelolaan tanamannya, sekaligus secara bersama-sama mereka berusaha mendapatkan posisi tawar yang seimbang melalui asosiasi/group grower yang terbentuk sepenuhnya berdasarkan konsep bottom up.......Sedikit ironis dengan keberadaan asosiasi/kelompok tani di Indonesia yang kebanyakan tumbuh masih berdasarkan dorongan atau rangsangan dari atas top down approach........Satu lagi pelajaran dari sang pemandu, bahwa dalam memproduksi apapun jenis komoditas, hendaknya selalu berfikir market demand oriented. Terlebih mesti mempertimbangkan aspek higinies dan kecantikan produk yang dihasilkan dan sedapat mungkin melalui proses produksi yang aman dan ramah lingkungan....... such a valuable suggestion, danki well Arjan!!!!
Benchmarking to NL (14. 2nd Week End (Going abroad........), 14-11-2010
Hari minggu kedua, kita gunakan untuk bepergian keluar negeri, yakni negeri tetangga yang berada tepat disebelah selatan Belanda, Belgia. Sebanyak 16 orang yang ikut kunjungan ini, hanya satu orang yang nggak ikut dan memilih melewatkan akhir pekan dengan acaranya sendiri. Bersama kita mengikuti perjalanan panjang dengan kereta api, mulai dari stasiun Oisterwijk –Tilberg – Breda – Rosendaal – Brussel Centrum ........Meskipun menyeberang ke negeri tetangga tetapi kita tak sedikitpun merasakan adanya perbedaan perlakuan keimigrasian setempat.
Perjalanan dengan kereta api antar negara berlangsung secara lancar tanpa hambatan, meski harus berganti dengan bis pengumpan karena adanya perbaikan jalur rel di stasiun Rosendaal.....Jam 12.30 an kita sampai di stasiun Brussel Centrum, sejenak bernarsis ria di Taman Kota diluar stasiun (Monumen Kuda??), dilanjut dengan naik Touring bus berkeliling kota dengan membayar 10 Euro plus fasilitas head set untuk memperoleh informasi dengan 8 pilihan bahasa. Sebuah kemasan paket wisata yang demikian tertata rapi, dan memberi banyak kemudahan maupun kenyamanan bagi pelancong yang datang.......
Kita berhenti di salah satu ikon wisata Kota Brussel yang bernama ATOMIUM, dengan penggambaran rangkaian atom raksasa yang tegak berdiri menjulang tinggi, sangat eksotik sebagai background aneka gaya narsis kita semua.......Selanjutnya untuk melengkapi kunjungan di arena futuristik tersebut, akupun menyempatkan beli kaos untuk oleh-oleh dan karena menunggu dilayaninya kaos tersebut menyebabkan aku bersama dua orang teman, terpaksa ketinggalan bis dan harus menunggu datangnya bis 45 menit berikutnya, tapi justru membawa berkah lain, karena bisa berfoto ria dengan lebih bebas karena terbebas dari kerumunan.........
Setelah bis datang, maka kitapun segera masuk dan mengikuti rute selanjutnya hingga sampai ke pemberhentian di kawasan wisata andalan lainnya, yakni Manekin Pis. Sebuah nama yang demikian familiar sejak kita sampai di Belanda, karena dijadikan nama kedai makan take away untuk potato french fries yang selalu ramai dengan antrian pembeli. Kesan pertama bagi sebagian orang yang berkunjung ke tempat ini pasti akan sama, seperti cerita Andrea Hirata dalam novel Edensor-nya....... Disini kita dibuat geli dan sedikit terkecoh dengan kenyataan bahwa obyek wisata yang demikian mendunia tersebut hanyalah berupa sebuah patung anak lelaki telanjang yang sedang kencing beserta air kencingnya yang menjadi air mancur abadi...... Patung super kecil tersebut berada di pojok gang yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir, tidak terlalu istimewa selain karena kemampuan pengelola wisata setempat dalam mempromosikan obyek uniknya..........Sebuah pelajaran lain tentang bagaimana mengemas yang namanya UPS (Unique Selling Point).......
Acara wisata belanja berakhir sore hari, dan kita mesti bergegas menuju stasiun untuk naik kereta jam 4.20 an. Hanya dengan membeli kentang goreng (disini disebut dengan frites), akupun berlari menuju platform yang demikian ramai oleh calon penumpang. Rupanya ada penundaan kereta api sebelumnya sehingga tatkala kita masuk ke dalam kereta sudah tidak lagi mendapatkan tempat duduk. Aku bersama beberapa orang teman laki-laki terpaksa berdiri sepanjang perjalanan Brussel Centrum – Rosendaal. Cukup melelahkan, namum juga memberi pengalaman tersendiri.....Dalam posisi berdiri begini justru sempat melakukan obrolan ringan dengan seorang ibu paruh baya yang duduk tepat disamping berdiriku.....Dia baru kembali dari UK, terlihat dari tentengan tas bertuliskan Royal Horticultural Society (tulisan itu pula yang awalnya menjadi pembuka perbincangan). Dan lebih menggembirakan pula bahwa rupanya dia juga pernah berkunjung ke Indonesia...........
Perjalanan dengan kereta api antar negara berlangsung secara lancar tanpa hambatan, meski harus berganti dengan bis pengumpan karena adanya perbaikan jalur rel di stasiun Rosendaal.....Jam 12.30 an kita sampai di stasiun Brussel Centrum, sejenak bernarsis ria di Taman Kota diluar stasiun (Monumen Kuda??), dilanjut dengan naik Touring bus berkeliling kota dengan membayar 10 Euro plus fasilitas head set untuk memperoleh informasi dengan 8 pilihan bahasa. Sebuah kemasan paket wisata yang demikian tertata rapi, dan memberi banyak kemudahan maupun kenyamanan bagi pelancong yang datang.......
Kita berhenti di salah satu ikon wisata Kota Brussel yang bernama ATOMIUM, dengan penggambaran rangkaian atom raksasa yang tegak berdiri menjulang tinggi, sangat eksotik sebagai background aneka gaya narsis kita semua.......Selanjutnya untuk melengkapi kunjungan di arena futuristik tersebut, akupun menyempatkan beli kaos untuk oleh-oleh dan karena menunggu dilayaninya kaos tersebut menyebabkan aku bersama dua orang teman, terpaksa ketinggalan bis dan harus menunggu datangnya bis 45 menit berikutnya, tapi justru membawa berkah lain, karena bisa berfoto ria dengan lebih bebas karena terbebas dari kerumunan.........
Setelah bis datang, maka kitapun segera masuk dan mengikuti rute selanjutnya hingga sampai ke pemberhentian di kawasan wisata andalan lainnya, yakni Manekin Pis. Sebuah nama yang demikian familiar sejak kita sampai di Belanda, karena dijadikan nama kedai makan take away untuk potato french fries yang selalu ramai dengan antrian pembeli. Kesan pertama bagi sebagian orang yang berkunjung ke tempat ini pasti akan sama, seperti cerita Andrea Hirata dalam novel Edensor-nya....... Disini kita dibuat geli dan sedikit terkecoh dengan kenyataan bahwa obyek wisata yang demikian mendunia tersebut hanyalah berupa sebuah patung anak lelaki telanjang yang sedang kencing beserta air kencingnya yang menjadi air mancur abadi...... Patung super kecil tersebut berada di pojok gang yang dipenuhi dengan toko-toko souvenir, tidak terlalu istimewa selain karena kemampuan pengelola wisata setempat dalam mempromosikan obyek uniknya..........Sebuah pelajaran lain tentang bagaimana mengemas yang namanya UPS (Unique Selling Point).......
Acara wisata belanja berakhir sore hari, dan kita mesti bergegas menuju stasiun untuk naik kereta jam 4.20 an. Hanya dengan membeli kentang goreng (disini disebut dengan frites), akupun berlari menuju platform yang demikian ramai oleh calon penumpang. Rupanya ada penundaan kereta api sebelumnya sehingga tatkala kita masuk ke dalam kereta sudah tidak lagi mendapatkan tempat duduk. Aku bersama beberapa orang teman laki-laki terpaksa berdiri sepanjang perjalanan Brussel Centrum – Rosendaal. Cukup melelahkan, namum juga memberi pengalaman tersendiri.....Dalam posisi berdiri begini justru sempat melakukan obrolan ringan dengan seorang ibu paruh baya yang duduk tepat disamping berdiriku.....Dia baru kembali dari UK, terlihat dari tentengan tas bertuliskan Royal Horticultural Society (tulisan itu pula yang awalnya menjadi pembuka perbincangan). Dan lebih menggembirakan pula bahwa rupanya dia juga pernah berkunjung ke Indonesia...........
Langganan:
Postingan (Atom)